Kamis, 13 September 2018

Riyadhus Shalihin Bab 345. Makruhnya Mengkhususkan Hari Jum’at Untuk Berpuasa Dan Malam Jum’at Untuk Shalat Malam



عَنْ أَبي هُرَيْرة رضَيَ اللَّه عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « لا تَخُصُّوا لَيْلَةَ الجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْن اللَّيَالي ، وَلا تَخُصُّوا يَوْمَ الجُمُعَة بِصيَامٍ مِنْ بيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ في صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ » رواه مسلم
1757. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shalallahu alaihi wasalam, sabdanya: “Janganlah engkau semua mengkhususkan malam jum’at untuk berdiri mengerjakan shalat malam diantara beberapa malam yang lain dan janganlah pula mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa dari beberapa hari yang lain, kecuali kalau kebetulan tepat pada hari puasa yang dilakukan oleh seorang diantara engkau semua,” -misalnya bernazar kalau kekasihnya datang ia akan berpuasa, lalu datanglah kekasihnya itu tepat hari Jum’at, kemudian ia berpuasa pada hari itu juga-. (Riwayat Muslim)
وَعَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « لا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ إِلاَّ يَوْماً قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ » متفقٌ عليه
1758. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Janganlah sekali-kali seorang diantara engkau semua itu berpuasa pada hari Jum’at kecuali kalau suka berpuasa pula sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (Muttafaq ‘alaih)
وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادٍ قَالَ : سَأَلْتُ جَابِراً رَضِيَ اللَّه عَنْهُ : أَنَهَى النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَنْ صَوْمِ الجُمُعَةِ ؟ قَالَ : نَعَمْ . متفقٌ عليه
1759. Dari Muhammad bin Abbad, katanya: “Saya bertanya kepada Jabir radhiyallahu anhu: “Apakah benar Nabi shalallahu alaihi wasalam melarang berpuasa pada hari Jum’at?” Ia menjawab: “Ya.” (Muttafaq ‘alaih)
وَعَنْ أُمِّ المُؤْمِنِينَ جُوَيْريَةَ بنْتِ الحَارِثِ رَضِيَ اللَّه عَنهَا أَنَّ النَّبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم دَخَلَ عَلَيْهَا يوْمَ الجُمُعَةَ وَهَيَ صائمَةٌ ، فَقَالَ : « أَصُمْتِ أَمْسِ ؟ » قَالَتْ : لا ، قَالَ : « تُرِيدينَ أَنْ تَصُومِي غداً ؟ » قَالَتْ : لا ، قَالَ : « فَأَفْطِري » رَوَاهُ البُخاري
1760. Dari Ummul Mu’minin Juwairiyah binti al-Harits radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasalam masuk dalam rumahnya pada hari Jum’at dan ia sedang berpuasa, lalu beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Adakah engkau juga berpuasa kemarin?” Juwairiyah menjawab: “Tidak.” Beliau shalallahu alaihi wasalam bertanya pula: “Adakah engkau berkehendak akan berpuasa juga besok?” Ia menjawab: “Tidak.” Kemudian beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Kalau begitu berbukalah hari ini!” (Riwayat Bukhari)

Riyadhus Shalihin Bab 346. Haramnya Mempersambungkan Dalam Berpuasa Yaitu Berpuasa Dua Hari Atau Lebih Dan Tidak Makan Serta Tidak Minum Antara Hari-Hari Itu


عَنْ أَبي هُريْرَةَ وَعَائِشَةَ رَضِي اللَّه عنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم نَهَى عَنِ الْوِصالِ . متفقٌ عليه
1761. Dari Abu Hurairah dan Aisyah radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasalam melarang puasa wishal -yaitu mempersambungkan puasa dua hari atau lebih tanpa berbuka sedikitpun-. (Muttafaq ‘alaih)
وَعَن ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّه عَنْهُما قالَ : نَهَى رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَنِ الْوِصالِ . قَالُوا : إِنَّكَ تُواصِلُ ؟ قَالَ : « إِنِّي لَسْتُ مِثْلَكُمْ ، إِني أُطْعَمُ وَأُسْقَى » متفقٌ عليه ، وهذا لَفْظُ البُخاري
1762. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah shalallahu alaihi wasalam melarang berpuasa wishal -lihat keterangan wishal dalam hadits 1761 diatas-. Para sahabat lalu bertanya: “Tetapi sesungguhnya Tuan sendiri juga berpuasa wishal?” Beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Sesungguhnya saya ini tidak sama denganmu semua -dalam hal berpuasa wishal ini-. Sesungguhnya saya juga diberi makan dan diberi minum.” Maksudnya Allah Ta’ala memberi kekuatan kepada beliau shalallahu alaihi wasalam itu seperti orang yang sudah makan dan minum. (Muttafaq ‘alaih) Ini adalah lafaznya Imam Bukhari.

Riyadhus Shalihin Bab 347. Haramnya Duduk Di Atas Kubur


عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رضِي اللَّه عنْهُ قَال : قَال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : لأَنْ يجْلِسَ أَحدُكُمْ على جَمْرَةٍ ، فَتُحْرِقَ ثِيَابَه، فَتَخْلُصَ إِلى جِلْدِهِ خَيرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يجْلِسَ على قَبْرٍ» رواه مسلم.
1763. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, katanya: “Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Sesungguhnya kalau seorang diantara engkau semua itu duduk di atas bara api, lalu terbakar pakaiannya, kemudian menembus sampai ke kulitnya, maka hal itu adalah lebih baik baginya daripada kalau ia duduk di atas kubur.” (Riwayat Muslim)

Riyadhus Shalihin Bab 348. Larangan Memelur -Menyemen atau Menembok- Kubur Dan Membuat Bangunan Di Atasnya


عَنْ جَابِرٍ رضِي اللَّه عَنْهُ قَالَ : نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيهِ ، وأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ . رواه مسلم
1764. Dari Jabir radhiyallahu anhu, katanya: “Rasulullah shalallahu alaihi wasalam melarang kalau kubur itu dipelur -ditegel atau disemen dan sebagainya-, juga melarang kalau duduk di atasnya dan kalau didirikan bangunan di atasnya.” (Riwayat Muslim)

Riyadhus Shalihin Bab 349. Larangan Bagi Seorang Hamba Sahaya -Budak- Melarikan Diri Dari Tuan Pemiliknya



عَنْ جَرِيرِ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَيَّمَا عَبْدٍ أَبَقَ ، فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ رواه مسلم
1765. Dari Jabir radhiyallahu anhu, katanya: “Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Mana saja hamba sahaya yang melarikan diri maka terlepaslah tanggungan -Allah dan RasulNya- dari hamba sahaya itu,” yakni ia tidak akan memperoleh kerahmatan Allah Ta’ala. (Riwayat Muslim)
وَعَنْهُ عَنِ النَّبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِذا أَبَقَ الْعبْدُ ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاةٌ » رواه مسلم . وفي روَاية : « فَقَدْ كَفَر » .
1766. Dari Jabir radhiyallahu anhu pula dari Nabi shalallahu alaihi wasalam, sabdanya: “Apabila seorang hamba sahaya itu melarikan diri, maka tidak diterimalah shalatnya.” (Riwayat Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka ia telah menjadi kafir.” Maksudnya: Dapat menjadi kafir kalau meyakinkan bahwa perbuatannya itu halal menurut agama dan kafir di sini dapat juga diartikan menutupi kenikmatan tuannya.

Riyadhus Shalihin Bab 350. Haramnya Memberikan Syafa’at -Yakni Pertolongan- Dalam Hal Melaksanakan Had-had Atau Hukum Islam -Yang Bertujuan Agar Diurungkannya Pelaksanaan Hukuman Itu-



قال اللَّه تعالى: { الزانية والزاني فاجلدوا كل واحد منهما مائة جلدة، ولا تأخذكم بهما رأفة في دين اللَّه إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر } .
Allah Ta’ala berfirman: “Orang yang berzina, perempuan dan lelaki, maka jaladlah -yakni deralah- keduanya itu, masing-masing seratus kali dera. Janganlah engkau semua dipengaruhi oleh rasa belas kasihan kepada keduanya itu dalam melaksanakan agama yakni hukum Allah, jikalau engkau semua benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (An-Nur: 2)
وَعَنْ عَائِشَةَ رضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ قُرَيْشاً أَهَمَّهُمْ شَأْنُ المرْأَةِ المخْزُومِيَّةِ الَّتي سَرَقَتْ فَقَالُوا : منْ يُكَلِّمُ فيها رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَالُوا : وَمَنْ يَجْتَريءُ عَلَيْهِ إِلاَّ أُسَامَةُ بْنُ زَيدٍ، حِبُّ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ،فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم:«أَتَشْفَعُ في حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ تَعَالى ؟» ثم قام فاحتطب ثُمَّ قَالَ : « إِنَّمَا أَهلَكَ الَّذينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهمْ كَانُوا إِذا سَرَقَ فِيهم الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ ، أَقامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فاطِمَةَ بِنْبتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتَ لَقَطَعْتُ يَدَهَا »متفقٌ عليه .
وفي رِوَاية: فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَالَ : « أَتَشْفَعُ في حَدٍّ مِنْ حُدودِ اللَّهِ،؟» قَالَ أُسَامَةُ : اسْتَغْفِرْ لي يا رسُولَ اللَّهِ . قَالَ : ثُمَّ أمرَ بِتِلْكَ المرْأَةِ ، فقُطِعَتْ يَدُهَا.
1767. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya orang-orang Quraisy disedihkan oleh peristiwa seorang wanita dari golongan Makhzum yang mencuri -dan wajib dipotong tangannya-. Mereka berkata: “Siapakah yang berani memperbincangkan soal wanita ini dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam?” Kemudian mereka berkata: “Tidak ada rasanya seorangpun yang berani mengajukan perkara ini -maksudnya untuk meminta supaya dimaafkan dari hukuman potong tangan- melainkan Usamah bin Zaid, yaitu kecintaan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam Usamah lalu membicarakan hal tersebut pada beliau shalallahu alaihi wasalam, kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Adakah engkau hendak meminta tolong dihapuskannya sesuatu had -hukuman- dari had-had yang ditentukan oleh Allah Ta’ala?” Seterusnya beliau berdiri dan berkhutbah: “Sesungguhnya yang menyebabkan rusak akhlaknya orang-orang yang sebelumnya semua itu ialah karena mereka itu apabila yang mencuri termasuk golongan orang mulia di kalangan mereka, orang tersebut mereka biarkan saja -yakni tidak diterapi hukuman apa-apa-, sedang apabila yang mencuri itu orang yang lemah -miskin dan tidak berkuasa-, maka mereka laksanakanlah hadnya. Demi Allah yang mengaruniakan keberkahan, andaikata Fathimah puteri Muhammad itu mencuri, sesungguhnya saya potong pula tangannya,” yakni sekalipun anaknya sendiri juga harus diterapi hukuman sebagaimana orang lain. (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat lain disebutkan: Lalu berubahlah warna wajah Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, kemudian bersabda: “Adakah engkau hendak meminta tolong dihapuskannya sesuatu had -hukuman- dari had-had yang ditentukan oleh Allah Ta’ala?” Usamah lalu berkata: “Mohonkanlah pengampunan untuk saya, ya Rasulullah.” Yang meriwayatkan hadits ini berkata: “Kemudian Nabi shalallahu alaihi wasalam menyuruh didatangkannya wanita itu lalu dipotonglah tangannya.”

Rabu, 12 September 2018

Riyadhus Shalihin Bab 351. Larangan Berak -Buang Air Besar Maupun Kencing- Di Jalanan Orang-orang -Yakni Tempat Mereka Berlalu Lintas-, juga Di Tempat Mereka Berteduh Dan Di Tempat Mendatangi Air -Sumber-sumber Air- Dan Yang Seumpamanya



قال اللَّه تعالى: { والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا فقد احتملوا بهتاناً وإثماً مبيناً }
Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang menyakiti -yakni mengganggu- orang-orang mu’min, baik lelaki atau perempuan, tanpa adanya sesuatu kesalahan yang mereka perbuat, maka orang-orang yang menyakiti itu sungguh-sungguh telah menanggung kedustaan dan dosa yang nyata.” (al-Ahzab: 58)
وَعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « اتَّقُوا الَّلاعِنَيْن » قَالُوا ومَا الَّلاعِنَانِ ؟ قَالَ : « الَّذِي يَتَخَلَّى في طَريقِ النَّاسِ أَوْ في ظِلِّهِمْ » رواه مسلم
1768. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Takutlah engkau semua pada dua perkara yang dilaknat -yakni menyebabkan orang yang melakukannya itu dilaknat oleh orang banyak-. Para sahabat berkata: “Apakah dua perkara yang dilaknat itu?” Beliau shalallahu alaihi wasalam menjawab: “Yaitu yang menyendiri -maksudnya buang air besar atau kecil- di jalanan orang-orang -di jalanan umum yang biasa dilalui oleh orang-orang- atau di tempat mereka berteduh.” (Riwayat Muslim)